Mana yang lebih menyakitkan?
Sendiri itu tenang.
Tapi sepi...
Rasanya pengen pulang, tapi gak tau kerumah yang mana.
Aku ingin pulang, kediriku di tahun- tahun sebelumnya.
Dulu waktu aku bahagia.
Dulu waktu belum sedewasa ini.
Kaya pengen nyerah tapi sayang udah terlalu jauh.
Kaya pengen berenti tapi nanti semuanya jadi sia-sia.
Jadi sepertinya semua memang harus dilanjutkn saja.
Sekalipun sudah tidak ada lagi yang menarik.
Kenapa ya, jadi sepi banget?
Semuanya pergi.
Ada yang jauh
Ada yang selamanya.
Entah kehilangan mana yang paling menyakitkan.
Sejauh ini, menurut ku yang paling sakit adalah kehilangan senyumku sendiri.
Entah kemana perginya diri yang baik-baik saja.
Dewasa kini rasanya... semua terlalu jauh ya.
Kukira dewasa itu sederhana.
Ternyata aku salah.
Hai hari makin terlewatkan dengan kalimat sederhana seperti...
Gapapa..
Lanjutin aja..
Yang gagal kita terima..
Yang kalah kita rayakan,
Sesekali, kalah juga butuh dirayakan.
Mungkin untuk menang kita butuh kalah sekali lagi.
Walaupun rasanya diri sudah lelah sekali ditampar kenyataan.
Sedang realita memaksa kita untuk hidup di dalamnya.
Di dalamnya ada tangis..
Ada sedih..
Payah..
Sesekali memang ada bahagianya,
tapi kadang cuman sebentar.
Entah kapan bahagia itu jadi selamanya.
Aku pun bingung,
dari semua yang kukejar,
nanti kalau berhasil sekalipun,
lalu mau mengejar apa lagi?
Kayanya dalam hidup,
isinya jadi soal lari-larian,
dan tak jarang jadi saling menjatuhkan.
Dan sengaja atau tidak, kadang ucapan orang lain sakit ya buat kita.
Kadang pencapaian orang lain jadi badai untuk diri sendiri.
Kadang jadi ngerasa, jauh dan ketinggalan.
Jadi kaya gak ada gunanya.
Kenapa ya?
Dulu gak ada yang bilang kalau ternyata dewasa itu rumit banget.
Kenapa gak ada yang bilang kalau dewasa bakal ketemu banyak tangisan?
dan kenapa ya, yang diusahakan bakal selalu jauh.
Jadi cape buat ngejar.
Entah nanti akhirnya bakal nyampe atau gak, kita gak pernah ada yang tau ya.
Kita gak pernah tau ya, selalu saja ada esok yang jadi rahasia,
dan kemarin yang selalu jadi cerita,
yang akhirnya terlewati juga kan,
dan akhirnya berhasil juga kan?
Kita gak pernah nyangka bakal ada disini sekarang,
ternyata, dari banyak yang gagal,
kita jadi percaya bakal ada diri yang semakin kuat.
Bakal ada jiwa yang semakin tahan banting,
jadi hambar sama rasa sakit sekalipun.
Jadi biasa aja.
Kalau tahu nanti di depan ada yang jauh lebih menyakitkan, aku pernah dengar kalimat soal hidup, katanya jangan lari, hancurlah sejadi- jadinya.
Ternyata kalimat itu benar, selama ini kita terlalu banyak lari dari semuanya.
Kita jadi lupa, bahwa luka itu ada, dan hancur itu nyata.
Jadi, marilah hancur sejadi- jadinya, untuk titik menang yang sehebat- hebatnya.
Gak papa ya...
Harus terus berjalan, sekalipun kita sendirian.
Sekalipun tanpa bercerita, mengeluh, apalagi minta dipelu, gak papa ya?
Kita lewatin semua sendiri, gak papa ya?
Gak papa kalau semua gak sesuai kenyataan.
Sakit ya? Tapi ini prosesnya.
Sebab tidak ada hasil yang indah, tanpa perjuangan yang sederhana.
Jadi mari babak belurkan perjuangan, teruslah mengejar, sekalipun dipukul mundur sama dunia.
Teruslah berlari, sekalipun dijatuhkan dunia berkali-kali.
Kita lapangkan lagi dadanya, kita kuatkan lagi pundaknya, air matanya biarkan saja mengalir.
Itu jadi bukti bahwa hari ini kita kuat sekali ya..
Peluk erat buat diri sendiri, atas semua yang sudah berhasil kita lewati.
Makasih ya udah bertahan.
Kuat sekali kamu ini.
Bertahan terus sampai tinggi ya.
Sampai nanti kita jadi besar, dan kalau sudah besar, jangan lupa jadi kecil ya.
Aku izin tutup tulisan ini dengan 1 halaman dari buku When You Fell Useless.
"Hiduplah sekalipun tidak ada yang menginginkan mu. Sekarang kita kesepian, kita sendirian, kita tidak punya siapa-siapa yang bisa mendengarkan sampai di fase ini, kita tidak bisa lagi melihat makna teman. Semuanya pergi satu per satu, entah karena cinta, cita-cita atau hal yang berbeda lainnya.
Kini kita percaya bahwa hidup akan berjalan masing-masing, hanya saja jangan pernah melupakan siapapun, yang pernah memberikan makna baik kepada hidup kita. Bagaimanapun, mereka merupakan tokoh- tokoh sejarah dalam hidup kita.
Ada yang baik, ada pula yang pura-pura baik. Bermacam-macam ya, seperti itu pulalah bentuk manusia. Separah-parahnya manusia, aku pernah berbicara dengan ikan, dengan lautan, dan yang terakhir ini, aku berbicara dengan kaktus.
Sungguh, rasanya sudah semakin takut berbicara dengan manusia. Takut dihakimi, takut disalahkan, dan masih banyak takut lainnya.
Aku pernah bertanya pada kaktus yang sedang ku tatap. Kaktus.. apa kamu pernah kesepian? katanya.. setiap hari aku kesepian, bahkan ia tidak punya teman di tengah gurun, sebab semuanya sudah pergi. Ada yang mati kekeringan, ada juga yang punah.
Lantas, apakah kakatus pernah protes akan hal itu? baginya bisa diberi hidup saja sudah sangat luar biasa.
Hidup kaktus yang sendirian itu, kini sama seperti kita.
Semuanya pergi, ada yang jauh, ada yang selamanya.




Komentar
Posting Komentar