Dewasa Tanpa Sosok Ayah
Sumber: Freepik
Ayah..
Ini aku, anak kecilmu yang dulu sangant kau banggakan.
Kita sudah sampai di bulan Maret yah.
Di bulan Maret ini, aku merindukanmu ayah.
Tapi.. ini bukan pertama kalinya aku merindukan mu.
Ini sudah kesekian kalinya.
Apakah ayah tidak merindukanku?
Ayah..
Tau kah engkau, bahwa anak mu ini sering merasa iri dengan teman-temannya.
Rasa iri itu hadir, saat mereka sedang bermain bersama ayah mereka.
Saat itu juga batinku berteriak memanggil mu.
Tidak bisakah kau kembali, sekedar menepuk pundak ku yang sudah sangat jatuh ini.
Dunia begitu keras menimpa pundak ku yah.
Aku jatuh menahan beratnya.
Kini, aku ingin kembali ke masa kecilku.
Dimana engkau menggendong ku di pundak mu.
Mungkin itu salah satu alasan, kenapa engkau ingin aku tumbuh dengan kuat.
Tapi aku tak sekuat itu yah.
Maaf ya ayah, jagoan mu ini sangat cengeng.
Dia masih sering menangis ketika sendiri.
Air matanya masih sering menetes ketika menatap langit malam.
Seolah langit malam sedang menunjukkan kenangan ku bersama mu.
Ayah,
Jika boleh aku meminta sesuatu, aku ingin engkau ada disini.
Menemani ku bersama sama kita menuju dewasa ku, sampai akhirnya kita berada di titik terindah ku menurut Tuhan.
Terimakasih ayah, karena telah sekuat tenaga menopang ku di pundak mu.
Kau adalah pahlawan ku, selamanya pahlawan ku.
Aku sayang ayah.



Komentar
Posting Komentar